Selasa, 04 Februari 2014

PENUMPANG TERAKHIR #ShortStory#



Penumpang Terakhir

Hari terlihat sudah sore, mentari sudah lelah bersinar dan hendak tidur diujung barat. Di pinggir jalan, terlihat seorang wanita yang terselubungi kain melambai-lambaikan tangannya.cmaka kuhentikan busku didepannya. Wanita itu pun naik dan duduk manis dibangku paling belakang.
“turun mana, bu? Saya habis ini mau pulang kerumah.” Tanyaku pada wanita itu karena rumahku sudah pada jarak 1 km lagi. Terlebih hari sudah gelap dan bulu kudukku menari ketakutan dibelakang leherku.
“kiri..” katanya lirih, tetapi masih bisa kudengar. Aku segera memutar stir kekiri. Wanita itu lalu turun dan memberikan selembar uang ribuan padaku. Tangannya dingin sekali. Kali ini bulu kudukku sudah jumpalitan tak tentu membuatku menelan ludah ketakutan.
Sepeninggal wanita itu, aku tancap gas secepat mungkin kembali ke rumah.
***
Setelah sholat isya, saat membersihkan bangku belakang bus, aku menemukan sebuah paying dan dompet. Saar mengambilnya kurasa bulu kudukku mulai pentas tari balet teringat penumpang terakhirku tadi. Di dalam dompet, terdapat selembar KTP pemiliknya. Aninda bugarwati. Nama yang aneh sekali. Lalu tanpa menunda lagi. Aku mengendarai motor bututku menuju alamat yang tercantum di KTP pemilik dompet.
Aku sampai di depan rumah kecil bercat merah. Jl. Cabe Rawit No.26 . dengan mantap aku mengetuk pintu rumah itu.
“assalamualaikum…” sapaku begitu ada seorang kakek-kakek membukakan pintu.
“waalaikumsalam... siapa ya?” Tanya kakek itu lemah.
“saya hanya hendak mengembalikan dompet dan paying ini. Tadi ada penumpang yang barangnya tertinggal, dan berdasarkan alamat dalam dompet, disinilah rumahnya.” Jelas ku pada kakek itu.
“Ooo.. makasih,pak.”  Kakek itu membuka-buka dompet yang baru saja aku berikan. Dan tanpa disangka dan ditanya, kakek itu menangis didepan ku dan  menggunakan pundakku untuk menghapus ingusnya.
“ada apa kek?” Tanya ku kaget.
“mari masuk,Pak…” kakek itu menyeret tanganku untuk masuk kedalam ruang tamunya.
Diruang tamu, telah duduk seorang ibu membawa the hangat.
“Ini.. Bapak ini menemukan dompet ninda, buuk…” kakek itu menyerahkan dompet tadi, yang langsung dilihat-lihat isinya oleh ibu tadi. Ibu tadi juga ikut menangis juga akhirnya. “Sebenarnya ada apa, kek? Bu?” tanyaku heran.
“Ninda itu cucuku.. dia meninggal tertabrak bis 4 bulan yang lalu. Mayatnya sulit untuk dikenali selain badannya sudah tak berbentuk, juga Karen tidak ditemukan dompet atau sumber lain yang berisi identitasnya. Baru dikenali setelah 3 minggu..”
“terimakasih telah mengembalikan ini kepada saya.”
“Ya. Bu. Sama-sama saya pamit pulang dulu. Terima kasih assalamualaikum….!” Aku keluar dari rumah itu. Sebelum aku tancap gas, seorang wanita tersenyum dibalik pohon mangga padaku. Aku tak sempat membalas senyumannya karena bulu kudukku sekarang mulai konser Rock ‘n Roll dan motor butuku sudah lari dari tempat itu.
--end--




by: Hanggara S. W  . 9E. 14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar