Penumpang Terakhir
Hari terlihat
sudah sore, mentari sudah lelah bersinar dan hendak tidur diujung barat. Di
pinggir jalan, terlihat seorang wanita yang terselubungi kain
melambai-lambaikan tangannya.cmaka kuhentikan busku didepannya. Wanita itu pun
naik dan duduk manis dibangku paling belakang.
“turun mana,
bu? Saya habis ini mau pulang kerumah.” Tanyaku pada wanita itu karena rumahku
sudah pada jarak 1 km lagi. Terlebih hari sudah gelap dan bulu kudukku menari
ketakutan dibelakang leherku.
“kiri..”
katanya lirih, tetapi masih bisa kudengar. Aku segera memutar stir kekiri.
Wanita itu lalu turun dan memberikan selembar uang ribuan padaku. Tangannya
dingin sekali. Kali ini bulu kudukku sudah jumpalitan tak tentu membuatku
menelan ludah ketakutan.
Sepeninggal wanita itu, aku tancap gas secepat mungkin
kembali ke rumah.
***
Setelah
sholat isya, saat membersihkan bangku belakang bus, aku menemukan sebuah paying
dan dompet. Saar mengambilnya kurasa bulu kudukku mulai pentas tari balet
teringat penumpang terakhirku tadi. Di dalam dompet, terdapat selembar KTP
pemiliknya. Aninda bugarwati. Nama yang aneh sekali. Lalu tanpa menunda lagi.
Aku mengendarai motor bututku menuju alamat yang tercantum di KTP pemilik
dompet.
Aku sampai
di depan rumah kecil bercat merah. Jl. Cabe Rawit No.26 . dengan mantap aku
mengetuk pintu rumah itu.
“assalamualaikum…”
sapaku begitu ada seorang kakek-kakek membukakan pintu.
“waalaikumsalam...
siapa ya?” Tanya kakek itu lemah.
“saya hanya
hendak mengembalikan dompet dan paying ini. Tadi ada penumpang yang barangnya
tertinggal, dan berdasarkan alamat dalam dompet, disinilah rumahnya.” Jelas ku
pada kakek itu.
“Ooo.. makasih,pak.”
Kakek itu membuka-buka dompet yang baru saja aku berikan. Dan tanpa
disangka dan ditanya, kakek itu menangis didepan ku dan menggunakan pundakku untuk menghapus ingusnya.
“ada apa kek?” Tanya ku kaget.
“mari masuk,Pak…” kakek itu menyeret tanganku untuk masuk
kedalam ruang tamunya.
Diruang tamu, telah duduk seorang ibu membawa the hangat.
“Ini.. Bapak ini menemukan dompet ninda, buuk…” kakek itu
menyerahkan dompet tadi, yang langsung dilihat-lihat isinya oleh ibu tadi. Ibu
tadi juga ikut menangis juga akhirnya. “Sebenarnya ada apa, kek? Bu?” tanyaku
heran.
“Ninda itu cucuku.. dia meninggal tertabrak bis 4 bulan yang
lalu. Mayatnya sulit untuk dikenali selain badannya sudah tak berbentuk, juga
Karen tidak ditemukan dompet atau sumber lain yang berisi identitasnya. Baru
dikenali setelah 3 minggu..”
“terimakasih telah mengembalikan ini kepada saya.”
“Ya. Bu. Sama-sama saya pamit pulang dulu. Terima kasih
assalamualaikum….!” Aku keluar dari rumah itu. Sebelum aku tancap gas, seorang
wanita tersenyum dibalik pohon mangga padaku. Aku tak sempat membalas
senyumannya karena bulu kudukku sekarang mulai konser Rock ‘n Roll dan motor
butuku sudah lari dari tempat itu.
--end--
by: Hanggara S. W . 9E. 14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar